Joshua Wong, Aktivis Muda Hong Kong Pengkritik Kebijakan Tiongkok

Joshua Wong atau Wong Chi-fung adalah salah satu aktivis muda Hong Kong yang secara lantang mengkritik kebijakan-kebijakan Tiongkok yang ia rasa sebagai anti-demokrasi. Dirinya merupakan pemuda yang lantang menyuarakan demokrasi di Hong Kong.

Joshua Wong merupakan pria kelahiran Hong Kong pada 13 Oktober 1996, tepat hari-hari terakhir Inggris berkuasa di Hong Kong. Ia terlahir dalam kondisi Dyslexia yang membuatnya sulit membaca dan menulis.

Dengan dibantu ibunya, Joshua dapat menyesuaikan diri dan menyelesaikan pendidikan di SMA Kristen di Hong Kong. Dirinya pun melanjutkan pendidikan tinggi di United Christian College sebelum akhirnya pindah ke Universitas Terbuka Hong Kong.

Tak pernah terbayang dalam benaknya bahwa dirinya akan menjadi aktivis seperti sekarang. Ia mengaku bahwa pengalaman hidup orang tuanya yang mendorong dirinya seperti saat ini.

Sewaktu dirinya berumur 13 tahun, ia diajak oleh orang tuanya mengunjungi keluarga miskin untuk menyebarkan Injil dan berdoa. Selang setahun berlalu, ia mengunjungi kembali keluarga tersebut dan sadar bahwa berdoa saja tidak akan membawa perubahan. Harus ada tindakan yang harus kita lakukan untuk mengubahnya.

Joshua Wong saat ini menjadi salah satu aktivis muda yang berjuang menyuarakan penolakan terhadap UU Ekstradisi Tiongkok. Sepak terjangnya selama ini membuat Pemerintah Tiongkok menganggap dirinya sebagai orang yang berbahaya. Bahkan Joshua Wong juga masuk dalam daftar hitam di sejumlah negara seperti Thailand dan Malaysia.

Perjalanan Joshua Sebagai Aktivis

Tahun 2011 merupakan tahun dimana Joshua mulai menapaki diri sebagai aktivis. Meski masih berumur 14 tahun, ia dan teman-temannya mendirikan sebuah gerakan bernama Scholarism yang memprotes rencana pmerintah untuk menerapkan program Pendidikan Nasional dan Moral di semua sekolah.

Program tersebut disinyalir sebagai upaya pencucian otak oleh Partai Komunis Tiongkok di Hong Kong karena berisi pendidikan doktrin nasionalis dan komunis Tiongkok.

Joshua berhasil menghimpun 120 ribu pelajar untuk menduduki kantor pemerintahan. Aksi tersebut berlangsung selama beberapa bulan dan membuat pemerintah membatalkan program tersebut.

Tahun 2014, Joshua menjadi pemimpin dalam unjuk rasa pro-demokrasi yang disebut Umbrella Movement atau Gerakan Payung. Nama tersebut muncul karena pengunjuk rasa menggunakan payung untuk melindungi diri dari gas air mata yang ditembakan aparat.

Gerakan ini muncul karena ada kebijakan Beijing yang mewajibkan seleksi terhadap setiap calon pemimpin Hong Kong dan harus berasal dari perwakilan pemerintah Tiongkok.

Tujuan gerakan ini memprotes kebijakan tersebut karena mereka percaya bahwa pemimpin Hong Kong harus dipilih secara demokratis dengan memberi kesempatan rakyat Hong Kong memilih pemimpinnya sendiri. Aksi ini gagal meski berlangsung selama 79 hari. Pemerintah Hong Kong seakan tutup mata meski ada 100 ribu demonstran yang hadir.

Sebagai aktivis demokrasi, ia memutuskan untuk membuat partai baru bernama Demosisto di 2016.

Joshua Wong sempat dipenjara selama enam hari terkait pengumpulan massa ilegal pada demo 2014. Kemudian pada Mei 2019 ia dipenjara dengan kasus yang sama selama 5 minggu.

Saat ini Joshua Wong bergabung dengan aksi protes RUU Ekstradisi. Penolakan terhadap RUU Ekstradisi muncul karena nantinya RUU ini dijadikan alat untuk mengincar musuh-musuh politik pemerintah Tiongkok di Hong Kong. Dengan berlakunya RUU ini maka ada campur tangan pemerintah Tiongkok dalam pengadilan Hong Kong.

Tinggalkan Komentar