HAKIM TINGGI SEMARANG BERPIHAK PADA KEADILAN

(Dr. Muhammad Taufiq selaku tim uasa hukum Kasmadi)

Disetrap.com– Beberapa waktu lalu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD menuturkan bahwa praktik mafia tanah di Indonesia masih terus terjadi. Bahkan kasus mafia tanah ini sudah terlalu banyak dan rumit dan menjadi problematika yang cukup besar dan serius bagi Indonesia.

Faktanya, hal ini pun terjadi di Jepara. Salah satu warga Legon Lele yakni Kasmadi yang merupakan pemilik tanah di Jepara, digugat oleh Cuming alias Liem Tjoeng Hwa alias Minarno di Pengadilan Negeri Jepara terkait dengan kepemilikan tanah. Cuming alias Liem Tjoeng Hwa alias Minarno mengaku sebagai pemilik tanah tersebut.

Awalnya Kasmadi (90) selaku pemilik tanah bertransaksi dengan Ferry, untuk tanah seluas 29.450m2 yang terletak di Legon Lele, Karimunjawa. Setalah disepakati harga, dilakukanlah pengukuran guna menentukan luas sehingga ketemu harga keseluruhan. Namun tiba-tiba terdapat perjanjian di notaris Debby Ekowati yang menyebutkan sebagian tanah yang dijual adalah milik Cuming alias Liem Tjoeng Hwa alias Minarno. Anehnya, meski tak ada bukti secarik kertas yang menyebut tanah itu milik Cuming alias Liem Tjoeng Hwa alias Minarno, notaris tetap memproses perjanjian itu dengan komposisi 51% Chuming sedangkan Kasmadi kendati memiliki bukti Letter C justru hanya mendapatkan bagian 49 %.

Tentu saja Kasmadi tidak mau dengan pembagian itu. Sebab ia tak mengenal Cuming alias Liem Tjoeng Hwa alias Minarno dan tentu saja tidak pernah menjualnya. Karena tak ada titik temu antara Kasmadi dengan Cuming alias Liem Tjoeng Hwa alias Minarno yang meminta 51% hasil penjualan tanah itu, akhirnya Cuming menggugat ke Pengadilan Negeri Jepara.  Kasus ini awalnya diadili hakim Pengadilan Negeri Jepara. Bertindak sebagai ketua majelis Rightman yang juga Ketua Pengadilan Negeri Jepara. Di Pengadilan Negeri Jepara, Kasmadi diputus kalah Letter C yang dimiliki dianggap tak memiliki kekuatan hukum, bahkan ia didenda membayar biaya perkara Rp 4.5 juta. Hal itu terjadi lantaran sebelum putusan diminta seseorang agar memberikan uang pelicin. Namun ia tak mau membayar uang pelicin sebanyak Rp 500 juta agar perkaranya menang seperti janji sang calo. Dan benar ia akhirnya diputus kalah, sehingga harus merelakan tanahnya. Lantaran merasa putusan itu tidak adil, Kasmadi pria asli Karimunjawa kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Semarang. Kasus ini juga sudah diputus oleh Pengadilan Tinggi Semarang Selasa, 6 Juni 2023.

Yang menarik dalam putusan tersebut adalah dalam dalilnya penggugat yaitu Cuming alias Liem Tjoeng Hwa alias Minarno, menyatakaan bahwa Letter C yang dimiliki Kasmadi itu dipalsukan. Namun, dalam pertimbangan hakim, menyatakan bahwa kalau untuk dipalsukan atau tidak itu harus dibuktikan dulu secara pidana. Karena belum pernah dibuktikan, maka hakim dalam pertimbangannya menyebutkan bahwa dalil penggugat yang menyatakan Letter C milik Kasmadi dipalsukan, itu dianggap sebagai dalil yang prematur. Dengan begitu eksepsi yang diajukan oleh tergugat yaitu Kasmadi diterima sehingga gugatan penggugat dinyatakan NO.

Hakim dalam pertimbangannya juga menyebutkan bahwa dalil gugatan Penggugat banyak yang kabur. Ditambah dengan jawaban-jawaban dari tim kuasa hukum Tergugat (Kasmadi), akhirnya hakim menerima eksepsi Tergugat.

Adapun bunyi amar putusan atas perkara dengan nomor 192/PDT/2023/PT SMG :

MENGADILI:

–           Menerima permohonan banding dari Pembanding semula Tergugat I;

–           Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jepara Nomor 61/Pdt.G/2022/PN Jpa  tanggal 5 April  2023 yang dimohonkan banding tersebut;

MENGADILI SENDIRI :

DALAM KONPENSI :

DALAM EKSEPSI :

–           Menerima eksepsi dari Tergugat I sekarang Pembanding ;

DALAM POKOK PERKARA :

–           Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijke verklaard/N.O)

DALAM REKONPENSI :

–           Menyatakan gugatan Penggugat dalam Rekonpensi tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijke verklaard)

DALAM KONPENSI dan DALAM REKONPENSI :

  • Menghukum Penggugat dalam Konpensi / Tergugat dalam Rekonpensi sekarang Terbanding untuk membayar ongkos perkara dalam kedua tingkat peradilan, yang dalam tingkat banding ditetapkan sebesar Rp150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah).

Dalam putusan Pengadilan Tinggi Semarang tersebut, dapat dilihat bahwa Hakim Pengadilan Tinggi yang memeriksa perkara ini di tingkat banding menyatakan bahwa dalam pokok perkaranya gugatan Penggugat tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijke verklaard/N.O).

Menanggapi putusan tersebut, Dr. Muhammad Taufiq, S.H., M.H., selaku tim kuasa hukum Tergugat 1 (Kasmadi) menyampaikan apresiasinya kepada hakim Pengadilan Tinggi Semarang yang telah memutuskan perkara ini.

“Jadi saya sangat mengapresiasi hakim yang memutus perkara ini. Hakim ini adalah hakim yang cerdas” tutur Dr. Taufiq

“Saya juga menilai hakim ini jujur dan sesuai dengan tagline kantor saya Muhammad Taufiq & Partners Law Firm. Dan sebagai penegak hukum, sudah seharusnya hakim itu seperti ini adil, jujur dan cerdas.” Tambah Dr. Taufiq

Tinggalkan Komentar