
SURAKARTA, 28 September 2026– Sebuah pesan kebangsaan yang kuat menggema dalam acara Jalan Sehat dan GowesMu yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Laweyan, Surakarta, pada Minggu (27/9/2026). Pakar hukum dan pengacara asal Solo, Dr. Muhammad Taufiq, S.H., M.H., mengajak Muhammadiyah untuk terus memosisikan diri sebagai “menara api” yang menerangi masyarakat luas, bukan sekadar “menara gading” yang eksklusif dan berjarak dari realitas sosial.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Taufiq dalam orasi kebangsaannya yang dirangkai dengan momen refleksi sejarah peringatan G30S/PKI. Kegiatan yang dipusatkan di Graha 58 Gedung Serba Guna Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini turut dihadiri sejumlah tokoh persyarikatan, seperti Ketua PP Muhammadiyah HA Dahlan Rais, KH Subari, HA Sukidi, H Rohani, Ketua LPCR PM PDM Kota Surakarta Azhari, H Sumanto, Ketua MPKSDI PDM Kota Surakarta Dr. Suyanto, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta-Timur (UMJT) Prof. Sofyan Anif, H Bagus Sukatno,
Kontribusi Sosial Tanpa Sekat
Dalam orasinya, Dr. Taufiq menekankan bahwa Muhammadiyah tidak boleh hanya berhenti pada kegiatan keagamaan. Dengan mengutip kedekatan historis Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan Muhammadiyah, ia mengingatkan bahwa persyarikatan ini punya andil besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, filosofi “menara api” harus diwujudkan melalui penguatan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan. Dr. Taufiq mengapresiasi berbagai lembaga milik Muhammadiyah yang hingga kini terus memberikan manfaat luas bagi masyarakat, bahkan bagi mereka yang berlatar belakang non-Muslim sekalipun.
Peringatan Terhadap Bahaya Laten Komunisme
Selain membahas peran sosial Muhammadiyah, Dr. Taufiq juga menyoroti pentingnya masyarakat memahami sejarah secara kritis, khususnya terkait larangan ideologi komunisme di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa pelarangan paham Komunisme/Marxisme-Leninisme memiliki dasar hukum yang kuat, yakni Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 yang masih berlaku.
Secara khusus, ia meminta masyarakat agar waspada terhadap produk budaya maupun narasi-narasi baru yang berpotensi membangkitkan kembali simbol-simbol terkait PKI. Menurut Dr. Taufiq, peristiwa sejarah tidak boleh hanya diingat sebagai cerita, melainkan harus dijadikan pondasi pembelajaran untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Acara yang memadukan olahraga, silaturahmi, dan refleksi kebangsaan ini ditutup dengan pengundian doorprize. Warga Muhammadiyah Laweyan yang hadir tidak hanya pulang dengan kondisi fisik yang bugar, tetapi juga membawa semangat baru untuk terus memperluas kebermanfaatan organisasi bagi bangsa dan negara.
Leave a Reply