DISETRAP

Pusat Informasi Hukum

GIMMICK GIBRAN MENANDAKAN IA TAK PAHAM ETIKA

Disetrap.com- Membungkukkan badan kepada orang lain mungkin merupakan sesuatu yang baik dan sesuai etiket. Namun, cara itu belum tentu etis jika seseorang membungkukkan tubuh sebagai gimmick atau trik merendahkan orang lain .

Etika dan etiket. Etika inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Binatang tidak dapat menilai baik dan buruk. Bertens juga menggarisbawahi perbedaan etika dengan etiket. Meskipun kedua istilah ini mengatur perilaku manusia secara normatif, terminologi ini tidak bisa dicampuradukkan.

Etiket menyangkut cara yang harus dilakukan manusia, sedangkan etika fokus pada masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan atau tidak. Misalnya, memberikan sesuatu dengan tangan kanan adalah etiket. Namun, belum tentu cara tersebut etis atau sesuai dengan etika.

Bertens mencontohkan, jika A memberikan amplop berisi uang kepada B, yang merupakan seorang hakim, perbuatan itu tidak etis meskipun dilakukan dengan tangan kanan. Sebab, norma etika antara lain melarang mencuri atau menyuap.

Mengacu pada contoh itu, membungkukkan badan kepada orang lain mungkin merupakan sesuatu yang baik dan sesuai etiket. Namun, cara itu belum tentu etis jika seseorang membungkukkan tubuh sebagai gimmick atau trik merendahkan orang lain yang lebih tua.

Etiket juga hanya memandang manusia dari lahiriah, sedangkan etika dari dalam. ”Bisa saja orang tampil sebagai “musang berbulu ayam”: dari luar sopan dan halus, tapi di dalam penuh kebusukan. Banyak penipu berhasil dengan maksud jahat mereka, justru karena penampilannya begitu halus dan menawan hati, sehingga mudah meyakinkan orang lain,” tulis Bertens.

Indikator sebuah tindakan itu etis atau tidak, antara lain, bisa diukur dengan hati nurani. Bertens mengatakan, hati nurani merupakan kesadaran moral: “instansi” yang membuat seseorang menyadari yang baik atau buruk (secara moral) dalam perilakunya.

Litbang Kompas kembali melakukan jajak pendapat saat debat bertema pembangunan berkelanjutan dan lingkungan hidup, sumber daya alam dan energi, pangan, agraria, masyarakat adat, dan desa. Ketiga cawapres mendapatkan penilaian performa yang baik dengan skor rata-rata di kisaran angka 7.

Hati nurani bisa memuji jika yang bersangkutan berbuat baik, tetapi juga sekaligus mencela jika perbuatannya buruk. ”Beberapa filsuf berpendapat bahwa hati nurani dalam keadaan gelisah merupakan fenomena yang paling mendasar. Itulah hati nurani dalam arti sebenarnya,” tulis Bertens.

Dengan demikian, bisa jadi sentimen negatif warganet dalam debat cawapres kali ini menunjukkan adanya kegelisahan soal perbuatan yang tidak sesuai etika. Namun, yang pasti, debat telah menjadi panggung untuk publik menilai para kandidat, termasuk etikanya.

Dr. Muhammad Taufiq, S.H., M.H.

Tinggalkan Komentar