
Surakarta, 15 September 2025 – Pergantian menteri sering kali dielu-elukan sebagai momentum perubahan, angin segar yang akan membawa perbaikan. Namun, tampaknya harapan itu harus segera diredam. Menteri Keuangan yang baru, Purbaya Yudhi Sadewa, belum genap lima hari menjabat, namun pernyataannya sudah menuai kontroversi dan keraguan.
Alih-alih menyajikan solusi, ia justru membuat publik geram. Pernyataan kontroversialnya yang menyebut tuntutan “17+8” hanya berasal dari “sebagian kecil” rakyat Indonesia dianggap sangat melukai hati publik. Hal ini seolah menunjukkan sikap yang tak acuh terhadap kesulitan yang dihadapi masyarakat, memperkuat keraguan akan kompetensinya dalam memperbaiki kondisi ekonomi.
Dr. Muhammad Taufiq, S.H., M.H., dalam siaran langsung di kanal YouTube-nya, memberikan pandangannya. “Jangan menaruh ekspektasi, jangan menaruh harapan banyak dengan ganti menteri dan sebagainya. Ini seperti keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya.”
Di tengah krisis ekonomi dan anjloknya daya beli masyarakat, pesan ini menjadi sangat relevan. Akar permasalahan negara tidak hanya terletak pada sosok yang mengisi kursi menteri, melainkan pada “pilot” atau pemimpin utamanya, yaitu Presiden.
“Negara ini bergantung pada pilotnya,” kata Taufiq. “Jika pilotnya tidak mencoba keluar dari krisis, percuma saja melakukan reshuffle atau mengganti menteri.
” Masyarakat dihimbau untuk tidak terlena dengan perubahan kabinet. Perhatian harus diarahkan pada reformasi yang lebih mendasar, terutama dalam hal pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme serta revitalisasi institusi negara termasuk kepolisian. Tanpa langkah berani ini, harapan untuk perbaikan ekonomi hanyalah sebuah fatamorgana yang tak akan pernah menjadi kenyataan.
Tinggalkan Komentar