DISETRAP

Pusat Informasi Hukum

Rismon Sianipar, Dr. Muhammad Taufik S.H., M.H. , dan dr. Tifa Kupas Buku Jokowi White Paper

Surakarta, 25, Agustus 2025 – Tiga tokoh, yakni Rismon Sianipar, Roy Suryo dan dr. Tifa, menggelar bedah buku berjudul Jokowi White Paper. Dalam wawancara bersama Dr. Muhammad Taufik melalui kanalnya Salam Akal Waras Channel, Buku setebal lebih dari 700 halaman itu disebut sebagai karya akademik yang disusun menggunakan metode remote forensic analysis untuk mengkaji berbagai dokumen dan artefak digital terkait Presiden Joko Widodo.

Rismon mengungkapkan, istilah white paper dipilih karena buku ini dimaksudkan untuk mengungkap sisi tersembunyi di balik kekuasaan. “Kami ingin menyingkap apa yang gelap selama ini. Filosofinya, tulang dan sumsum itu putih, maka kami ingin menunjukkan ‘putih-putih’ yang selama ini tertutup oleh gelapnya praktik kekuasaan,” jelasnya.

Rismon juga menyoroti lemahnya pemahaman aparat penegak hukum, khususnya hakim, terhadap teknologi digital. Ia mencontohkan betapa mudahnya percakapan WhatsApp dimanipulasi dan dijadikan alat bukti di pengadilan. “Kalau hukum masih terjebak dalam teori ‘spider web’, siapa pun bisa dengan mudah dijerat pasal berlapis,” ujar beliau.

Sementara Dr. Muhammad taufik menekankan bahwa buku ini sebaiknya dilihat sebagai karya ilmiah yang perlu dijawab secara akademis, bukan personal. “Kalau mau membantah, tulis saja buku tandingan. Misalnya berjudul ‘Jokowi The Best President’. Tapi tentu harus berbasis riset, bukan serangan pribadi,” kata beliau.

Buku Jokowi White Paper terdiri atas 18 bab dan dikerjakan secara independen tanpa dukungan sponsor. Para penulis menegaskan proyek ini murni karya akademisi lintas disiplin ilmu.

Dr. Tifa mengungkapkan peluncuran buku sejatinya direncanakan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan sebagai bentuk “hadiah konstitusional”. Awalnya, acara akan digelar di kawasan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), namun batal setelah pihak penyelenggara mengaku mendapat larangan dari aparat kepolisian. “Uang muka acara bahkan dikembalikan. Padahal kami hanya ingin mempersembahkan hadiah untuk HUT RI, tapi justru mendapat hambatan,” tutur Dr. Tifa.

Meski demikian, ketiga penulis memastikan peluncuran tetap berlangsung. Buku akan diterbitkan dalam dua versi, yakni edisi koleksi dan edisi reguler yang bisa diakses masyarakat. Mereka berharap karya ini dapat memicu diskusi akademik sekaligus menjadi bahan evaluasi kepemimpinan Jokowi dari perspektif hukum, politik, dan filsafat.

Tinggalkan Komentar